BUDAYA MENCONTEK

Setiap anak, entah itu tingkat anak-anak, remaja, ataupun dewasa pasti menginginkan nilai yang bagus. Karena Sebagian dari mereka mungkin berfikiran dengan nilai yang bagus itu dapat membanggakan orang tuanya, serta menganggap dirinya itu pintar. Mereka melakukan berbagai hal atau cara, agar nilainya tetap bagus walaupun ia tidak belajar sekalipun, yaitu dengan mencontek.
Tidak asing bukan dengan kata mencontek? Ya, mencontek itu adalah prilaku buruk yang ditunjukan oleh seseorang pada saat sedang menghadapi ujian atau ulangan yang dapat kita jumpai pada tingkat anak-anak, remaja, maupun dewasa. Sehingga mencontek itu sudah membudaya pada diri anak jika terus menerus dibiarkan. Budaya mencontek akan tumbuh pada diri anak sejak anak-anak apabila tidak ditangani oleh guru serta peran kedua orang tuanya. Jika orang tuanya slalu mengekang nilai anak harus sekian-sekian tidak boleh jelek, namun anak tersebut tidak mampu atau tidak dapat mengusai materi yang disampaikan oleh gurunya, maka yang ada didalam fikiran anak adalah mencontek, dengan menconteklah dia akan mendapatkan nilai yang baik dan sesuai dengan keinginan orang tuanya sehingga dia tidak dimarahi, itu yang membuat anak menjadi bangga dengan hasil mencontek.
Jika mencontek terus menerus dibiarkan maka yang ada mencontek adalah hal yang biasa pada diri anak dan semakin membudaya pada diri anak tersebut. Jadi mulailah pada diri kita sendiri untuk slalu jujur, walaupun terkadang jujur itu sangat menyakitkan, namun dengan sikap yang jujur adalah kunci utama untuk membuat karakter dan sifat anak menjadi lebih.

Pengalaman dan Kesan

Pertama kalinya saya datang ke Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah pada saat pendaftaran mahasiswa baru, Saya bersama teman-teman mendaftar dan melaksanakan tes bersama. namun, saat saya akan masuk kedalam ruangan tes, saya dilarang masuk awalnya saya tidak tau apa alasanya saya dilarang masuk. Setelah itu pejaga pintunya mejelaskan bahwa melaksakan tes itu harus memakai sepatu, sedangkan pada saat itu saya hanya memakai sendal. Waktu itu saya merasa kebingungan sekali, dan akhirnya ada seseorang yang baik hati mau meminjamkan sepatunya untukku sehigga saya dapat megikuti tes bersama teman-teman ku tadi. Setelah mengerjakan soal dan langsung ada pemberitahuan lulus atau tidakya, Alhamdulillah saya lulus degan prodi PGSD. Saya merasa berterimaksih sekali dengan seseorang yang mau memijamkan sepatuya untukku, Aku akan selalu mengingat kebaikanya.
Hari yang slalu ku nanti-nanti adalah hari pada saat pertama masuk kuliah, dimana pada hari-hari itu disibukkan dengan kegiatan POMB (Peerimaan Orientasi Mahasiswa Baru) dan Masta (Masa Taaruf), yang setiap harinya dimulai pukul 06.00 dan itu harus on time. Saya selalu menikmati kegiatan-kegiatan itu, bagiku kegiatan seperti itu hanya ada pada saat awal orietasi mahasiswa baru dan tidak akan terulang lagi.
Perkuliahan biasa sudah dimulai, saya pertama kuliah adalah pada hari jumat degan mata kuliah Pacasila di Gedug S, di gedung itulah pertama kalinya saya berjumpa dengan teman-teman sekelasku yang akan bersama saya nati selama 4 tahun kedepan. Pada saat itu saya menemukan sosok teman yang sangat baik kepadaku ada empat orang, yang salah satuya adalah saya sediri. Kami bersahabat baik sampai sekarang, kita selalu bersama-sama entah itu dalam keadaan apapun. Dosen-dosen di Uiversitas Muhammadiyah Surakarta juga sagat baik, asyik dan meyenangkan pada saat pembelajaran berlangsung, kami dilatih untuk dapat menjadi seorang guru yang profesioal.
Semoga Uiversitas Muhammadiyah Surakarta semakin maju,tidak kalah dengan Universitas yang lain, karena saya yakin bahwa potensi yang dimiliki oleh Uiversitas Muhammadiyah Surakarta sagatlah bagus. Dan saya bangga mejadi Mahasiswi di Uiversitas Muhammadiyah Surakarta.

Cerita Anak

          “JOKO CILIK”

           Dahulu kala dihutan yang sangat lebat tinggalah seorang kakek bersama cucu laki-lakinya yang masih berusia tujuh tahun. Kakek itu bernama Harjo Pawiro, kakek harjo ini sangat tangguh, kuat, perkasa dan pemberani. Selain itu kakek ini sangat menyayangi cucu satu-satunya yang masih berusia tujuh tahun namanya Joko. Joko ini sangat nakal, dia selalu menyepelekan kakeknya.
Suatu hari, kakek harjo bersama joko pergi mencari makanan dengan memancing ikan dipinggir danau. Suasananya sangat sejuk, rindang dan asri. Disana joko dan kakeknya sangat menikmati keindahan didanau tersebut, sembari menunggu hasil ikan yang dipancingnya. Namun beberapa saat kemudian susasanya berubah mencekam, tiba-tiba ada seekor buaya buas yang sangat besar sekali, Joko pun lari terbirit-birit ketakutan. Sang kakek juga berlari untuk menemui cucunya untuk menyelamatkannya dari buaya buas tersebut.
Namun tak disangka sang kakek terpleset dan masuk kedalam sungai tersebut. Alhasil sang kakek dimakan oleh buaya yang sangat besar itu. Joko menjerit histeris dan tak kuasa menahan air matanya karena kehilangan sosok kakeknya yang ia sayangi dan yang merawatnya sejak kecil, Suasanya didanau tersebut seketika berubah menjadi haru.
Demi menyelamatkan dirinya sendiri, ia harus meninggalkan danau tersebut, walaupun dengan berat hati karena kakek yang ia cintai tewas didanau tersebut. Sekarang joko hanya hidup sebatangkara dihutan yang sangat lebat itu, tak ada yang dia ajak berbicara, bermain lagi. Joko sering melamun memikirkan kakeknya yang telah pergi meninggalkan dirinya sendiri. Suatu ketika ada seekor monyet yang mendekati joko sedang melamun dibawah pohon besar, monyet tersebut berusaha menghibur joko yang sedang sedih, dia adalah monyet yang baik kepada manusia. Dengan usaha monyet yang slalu menemani joko, selalu menghiburnya, sekarang mereka bersahabat dan bersama-sama.
Tidak hanya monyet, burung-burung di hutan itu juga slalu berkicau merdu, suara nan elok slalu dikeluarkannya untuk memberikan suasana keindahan dan kermaian serta untuk menghibur joko. Joko sangat bahagia, dia sekarang sudah tidak merasa sendiri lagi karena sudah menemukan teman-teman baru, yaitu monyet dan burung. Hewan yang tidak kita sangka ternyata mereka berbuat baik kepada manusia.
Jadi, selagi kita masih mempunyai kedua orang tua yang masih utuh, kita harus menghargainya, menghormatinya, menyayanginya, tidak melawannya, mematuhinya dan melindunginya. Karena jika sudah tidak mempunyai orangtua seperti joko maka akan hidup sendirian, tidak ada yng memperdulikannya kalau tidak dirinya sendiri yang peduli. Sehingga sosok kedua orang tua itu sangat penting sekali dalam hidup kita. Selain itu hewan-hewan yang kita anggap remeh, ternyata hewan tersebut mempunyai hati yang baik terhadap manusia. Kita sebagai manusia yang diberi Allah swt keutuhan dan fikiran yang komplit harus senantiasa bersyukur dan tidak menganggap rendah hal lain, karena yang kita anggap rendah itu belum tentu buruk.

Tentang saya

IMG_6466.JPG

Assalamualaikum,

Perkenalkan nama saya Intan Dwi Rahmawati, dan saya sering dipanggil dengan sebutan “Intan”. Hobi saya adalah membaca, Saya lahir di kota Sragen, lebih tepatnya di Desa Wonorejo, Kalijambe, Sragen. Saya Kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta mengambil Program Studi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar).

Mengapa saya mengmbil program studi pgds? Karena itu adalah cita-cita saya sejak kecil dan saya bercita-cita ingin menjadi seorang ibu guru yang mulia. Dan tak lupa, bapak saya bernama Sriyono dan (Almarhumah) Ibu saya Watini . Saya mempunyai satu saudara, yaitu seorang kakak perempuan, namanya Erma EkoWati kami sangat dekat sekali.

Sekian perkenalan dari saya, Trimakasih

WassalamualaikumWr.Wb

Suara Hati…Ibuku

Buah hatiku…

Mungkin sang pencipta sedang menegur dan

sakit

Memberi ujian kepadaku

Aku kini sendiri..

Tak ada yang ku ajak bicara

Untuk menopang tubuhku saja,

Aku tidak kuat

Apalagi untuk mengobrol..?

Aku hanya terdiam seperti batu

Mendiamkan mu lebih sakit daripada berjalan

Diatas pecahan kaca

Tahukah engkau,aku seperti bayi

Yang slalu merepotkan mu

Sakitnya semakin sakit

Tulang-tulangku mulai terkikis

Bahkan dengan sengaja..?

Aku berpura-pura memukul nyamuk

Untuk membangunkan kalian                                                                   .

Maafkan aku…

Aku tak bisa menjadi seorang ibu

Ibu yang sempurna bagimu

Mungkin aku tak bertahan lama…

Jika suatu saat aku bertemu dengan sang pemberi hidup

Aku akan berbisik, kepadanya?

Untuk slalu menjagamu

Ibu slalu menyayangimu…

Tersenyum

IBU TERSENYUM.jpg

Ma, Ajari Aku Tersenyum

Ma, ajarkan aku untuk tersenyum seperti orang dewasa.
Yang mana ia tersenyum tulus meskipun ia merasa sakit
Sakit akan hidup, sakit akan orang-orang, sakit akan harapan-harapannya yang pupus

Ma, aku masih di level pemula di permainan bernama hidup
Masih pemula di tahap kedewasaan
Oleh karena itu, aku masih harus belajar akan bersenyum
Karena kalau tidak hati-hati, senyum itu bisa menyakiti
Betapa sulit untuk tersenyum waktu dewasa ini

Ma, kenapa yang paling sulit kulakukan adalah tersenyum waktu hati merasa sakit?
Aku tahu aku harus tersenyum tapi hatiku tidak mengijinkannya
Dan aku tidak bisa membiarkan orang melihat wajahku yang sedih
Oleh karena itu aku harus tersenyum
Bagaimana caranya agar hati bisa terbujuk untuk membiarkan bibir ini mengulas senyum?
Bagaimana caranya, Ma?

Ma, ajari aku tersenyum seperti orang dewasa
Yang mana ia tersenyum tulus meskipun ia merasa sakit
Sakit akan hidup, sakit akan orang-orang, sakit akan harapan-harapannya yang pupus